Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Januari 2016

REFLEKSIKU DALAM BERFILSAFAT

REFLEKSIKU DALAM BERFILSAFAT
Venti Indiani | NIM 15709251057


A.    Adab Mempelajari Filsafat
Tiadalah ilmu di dunia ini yang dalam mempelajarinya tak mempunyai tata cara atau adab. Begitupun ketika kita berbicara mengenai filsafat. Adab pertama dan paling utama dalam mempelajari filsafat tidak lain dan tidak bukan adalah membangun pagar dan pondasi spiritual. Mengapa? Karena setinggi-tingginya ilmu di dunia tidak lain dan tidak bukan adalah ilmu spiritual. Filsafat ilmu merupakan suatu olah pikir, dimana kita akan menggunakan segenap pikiran, jiwa, dan raga untuk mempelajarinya. Yang harus kita ingat adalah jangan sampai setelah mempelajari filsafat menjadi rapuh dan hancur pertahanan spiritual kita. Maka dari itu, perlu suatu pondasi yang kuat sebagai koridor kita dalam mempelajari filsafat. Adab yang kedua, kita memanfaatkan momen dalam mempelajari ini sambil mematangkan aspek psikologis kita. Aspek psikologis ini antara lain meliputi kesabaran, ketelatenan, dan jaya juang untuk belajar. Karena sudah pasti dalam belajar filsafat dibutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan jaya juang dalam belajar yang tinggi. Tiadalah kita dikatakan sedang belajar jika dalam prosesnya tidak ada effort yang keras dari dalam diri, begitu pun ketika belajar filsafat.
B.     Objek Filsafat
Ranah filsafat mengenal dua macam objek yang terdiri atas objek yang ada dan yang mungkin ada. Masing-masing objek memiliki bermilyar-milyar sifat-sifat yang tidak akan mungkin mampu disebutkan seluruhnya satu per satu oleh manusia. Objek filsafat menjadi suatu yang subjektif karena bisa jadi menjadi ada bagi seseorang, namun menjadi yang mungkin ada bagi orang lain, begitu pun sebaliknya. Maka yang ada dan yang mungkin ada itu tergantung bagi siapa. Untuk lebih memahaminya, Prof Marsigit pernah menjelaskan secara sederhana seperti berikut. Beliau menanyakan tanggal lahir cucu Beliau di kelas. Tak ada satupun mahasiswa yang mampu menjawab dengan benar. Nah, maka bisa dikatakan bahwa (saat itu) tanggal lahir cucu Prof Marsigit adalah sesuatu yang mungkin ada bagi kami (mahasiswa). Namun tanggal lahir tersebut adalah sesuatu yang ada bagi yang tahu (Prof Marsigit). Dan sesaat ketika Prof Marsigit memberi tahu tanggal lahir cucu Beliau, sesuatu yang tadinya mungkin ada bagi mahasiswa itu menjadi sesuatu yang ada. Begitulah kira-kira perumpamaan dari subjektifitas objek filsafat.
C.    Membangun Pengetahuan Melalui Filsafat
Berdasarkan sudut pandang filsafat, dalam membangun pengetahuan ada dua hal yang akan menjadi fokus perhatian. Fokus pertama yaitu bagaimana kita mampu menjelaskan obyek pikir yang ada di dalam pikiran kita, sedangkan yang kedua jika obyek pikir berada di luar pikiran kita maka bagaimana cara kita untuk mengetahuinya. Membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan tentu meliputi semua yang ada dan yang mungkin ada. Membangun pengetahuan secara filsafat dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasi sifat-sifatnya yang ada dan yang mungkin ada. Karena yang akan dilakukan adalah membangun ilmu secara filsafat, maka identifikasi dari sifat-sifat yang ada dan yang mungkin ada juga ditinjau secara filsafati. Sifat-sifat filsafati adalah sifat-sifat yang merupakan hasil pemikiran para filsuf.
Menurut filsafat yang tetap hanyalah ada di dalam pikiran. Contoh dalam kehidupan sehati-hari mengenai yang tetap ini contohnya adalah jumlah mata pada manusia, jumlah kaki pada manusia, jumlah tangan pada manusia, dll. Sementara itu pada umumnya sesuatu yang berubah itu berada di luar pikiran. Contoh dalam keseharian kita yang berubah antara lain adalah jalan pikiran manusia, umur manusia, dll. Tokoh Ilmu filsafat yang mengenalkan tentang filsafat yang bersifat tetap yaitu Permenides sehingga ilmunya disebut Permenidenisme. Sementara itu tokoh filsafat yang mengenalkan tentang filsafat yang objeknya berubah adalah Heraklitos sehingga ilmunya disebut Heraklitosianisme.
Obyek yang tetap ada di dalam pikiran sedangkan yang tidak tetap atau berubah ada di luar pikiran. Paham yang menjelaskan mengenai objek yang ada di dalam pikiran disebut Paham Idealism yang dicetuskan oleh Plato. Kebenaran di dalam pikiran bersifat koherensi. Di dalam pikiran objek bersifat analitik dan apriori. Sifat-sifat dari paham idealism adalah sesuatu yang ideal. Hal ini kemudian berlaku sifat identitas dimana subyek sama dengan predikat. Contoh adanya hukum identitas adalah A=A. Artinya bahwa A pertama akan sama dengan A kedua. Namun perlu kita ingat bahwa filsafat merupakan ilmu yang memperhatikan ruang dan waktu. Oleh karena itu hukum identitas A=A hanya berlaku ketika di dalam pikiran saja.
Sementara itu paham yang menjelaskan mengenai objek yang ada di luar pikiran dikenal dengan Paham Realism yang dicetuskan oleh Aristoteles. Kebenaran di luar pikiran bersifat korespondensi. Di luar pikiran objek bersifat  aposteriori. Sifat-sifat dari realism adalah realis. Dalam realis berlaku sifat kontradiksi karena terikat ruang dan waktu dimana subyek tidak sama dengan predikat. Paham ini jika dikembangkan lebih jauh maka ideal yang dimaksud akan menuju rasio atau rasionalisme. Paham rasionalisme beranggapan bahwab ada prinsip-prinsip dasar dunia tertentu yang diakui benar oleh rasio manusia. Prinsip pertama ini bersumber dari dalam budi manusia dan tidak dijabarkan dari pengalaman empiris. Aliran rasionalisme ini dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650 M). Rene Descartes menyatakan perlunya metode yang ampuh sebagai dasar yang kokoh bagi semua pengetahuan. Penganut paham rasionalisme meyakini bahwa sumber utama pengetahuan adalah akal budi yang bersifat apriori, sehingga proposisi dari aliran rasionalisme ini bersifat analitis dan a priori. Ide pokok yang diungkapkan oleh Rene Descartes adalah (1) saya memahami bahwa saya makhluk berpikir maka pemikiran merupakan hakekat saya, (2) Tuhan merupakan wujud yang sempurna, dan (3) materi sebagai keluasan atau ekstensi sebagaimana hal itu dipelajari dan dilukiskan oleh para ahli ilmu ukur. Maka paham ini meyakini bahwa sumber dari pengetahuan adalah rasio dimana rasio itu berpikir. Jadi ilmu pengetahuan hanya dapat diperoleh dengan cara berpikir.
Lebih jauh lagi paham Realisme akan berkembang menjadi pengalaman atau empirisisme dengan tokohnya adalah David Hume. Jika pada paham rasionalisme memberikan kedudukan pengalaman sebagai sumber pengetahuan, maka empirisme memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalan pengahuan, baik pengalaman lahiriyah maupun pengalaman batiniyah. Menurut David Hume (1711-1776 M) pengalaman dimulai dari ide bahwa semua isi pengalaman sadar dapat dikelompokkan menjadi dua kategori yakni kesan dan ide. Istilah kesan (impression) menunjukkan kepada semua persepsi kita yang lebih hidup ketika mendengar, melihat, merasa, mencinta, dll. Sementara itu ide adalah gambar yang didasarkan pada memori kesan atau pikiran tentang kesan, hal tersebut bertumpu pada kemampuan imajinasi dalam membuat ide.
Pada dasarnya terdapat perbedaan pendapat atau pandangan antara tokoh filsuf Rene Descartes dengan David Hume. Rene Descrates berpendapat tidak mungkin mendapatkan ilmu tanpa rasio sedangkan David berpendapat tidak mungkin mendapat ilmu tanpa pengalaman. Kemudian Imanuel Kant menjadi sosok penengah diantara kedua pihak yang beselisih tersebut. Menurut Imanuel Kant, baik teori Rene Descartes maupun teori David memiliki kelemahan. Rene Descartes hanya mendewakan pikiran dan mengabaikan pengalaman, sedangkan David sebaliknya yaitu mendewakan pengalaman dan mengesampingkan rasio. Imanuel Kant kemudian berkata bahwa sebenar-benar ilmu adalah gabungan pikiran dan pengalaman. Dimana antara pikiran atau rasio dan pengalaman saling melengkapi.
Dari beberapa sifat di atas antara lain sifat identitas, analitiak, dan apiori merupakan sifat-sifat matematika murni. Sifat-sifat matematika ini untuk orang dewasa. Sedangkan yang memiliki sifat-sifat di luar pikiran sebagian adalah milik anak-anak atau untuk matematika sekolah. Tentu tidaklah sesuai jika matematika murni diterapkan di dunia anak-anak. Oleh karena itu diperlukan matematika sekolah atau matematika horizontal. Matematika sekolah memandang bahwa matematika bukanlah suatu formal yang abstrak namun sebagai suatu kegiatan bagi anak. Dalam menerapkan matematika sekolah kita dapat berpatokan pada Fenomena Iceberg dimana dalam tahapan mengajarkan matematika pada anak terdiri atas empat tahapan, yaitu matematika konkrit, model konkrit, model formal dan matematika formal. Dengan demikian matematika dapat diterima dengan baik oleh anak. Seperti apa yang telah dituliskan dalam makalah Prof Marsigit bahwasannya jika kita tidak membelajarkan matematika pada anak sesuai dengan tahapannya, maka bisa jadi seperti fenomena meletusnya gunung merapi. Artinya hal tersebut sangat berbahaya bagi anak.
D.    Filsafat Memandang Arus Globalisasi
Salah satu filsuf besar dari Prancis, Auguste Comte mempublikasikan aliran filsafatnya yang dikenal dengan Aliran Positivisme. Dalam aliran ini Comte membagi perkembangan manusia ke dalam 3 tahap yaitu tahap teologi (spiritual), kemudian berkembang ke tahap metafisika (filsafat), dan akan berkembang ketahap yang terakhir yaitu tahap positif (modern). Tahap teologi bersifat melekatkan manusia kepada selain manusia seperti alam atau apa yang ada dibaliknya. Pada tahap ini menurut manusia benda-benda pada zaman ini merupakan mengandung supernaturalisme. Manusia mempercayai adanya kekuatan magis pada benda-benda tertentu (teologis paling primitif). Kemudian setelah itu manusia percaya akan banyak Tuhan. Setelah itu kepercayaan bergeser menjadi monoteisme dimana tahap ini merupakan tahap tertinggi dimana manusia menyatukan Tuhan-Tuhan yang diyakini menjadi Tuhan yang tunggal dan paling tinggi. Tahap selanjutnya yaitu tahap metafisik dimana pada tahap ini merupakan masa perubahan dari masa teologi. Jika pada tahap teologi manusia hanya percaya pada satu Tuhan, maka tahap metafisika manusia mulai mempertanyakan dan mulai mencari bukti-bukti terhadap pandangan tersebut. Tahap yang terakhir menurut Comte yaitu tahap positif dimana pada tahap ini manusia tahu bahwa tidak ada gunanya untuk mempertanyakan suatu pengetahuan yang mutlak, baik secara teologis maupun metafisika. Manusia berusaha untuk menemukan hukum dari banyak hal melalui eksperimen yang pada akhirnya menghasilan fakta ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Fakta yang khusus dihubungkan dengan suatu fakta umum. Tahap ini menurut Comte adalah suatu tahap yang berlaku bagi perkembangan rohani seluruh umat manusia.
            Positivisme inilah yang kemudian dengan dahsyatnya menjelma sebagai Powernow atau yang biasa dikenal dengan istilah kehidupan kontemporer. Tentu adanya budaya kontemporer tidak hanya membawa dampak positif namun tentu juga memaksa masyarakat untuk terseret dalam dampak negatifnya. Efek positif yang bisa kita nikmati yang paling kentara adalah adanya kemudahan teknologi yang begitu cepatnya sehingga jarak bagi dua orang yang terpisah benua pun kian tiada arti berkat teknologi. Sumber informasi bisa didapatkan dengan sangat mudah dan cepat. Namun disisi lain ada dampak negatif yang mengiringi segala kemudahan tersebut antara lain adanya budaya hedonisme, utilitaranisme, materialisme, kapitalisme, dll. Bagaimana contoh nyatanya? Sebagai ilustrasi, saat ini teknologi berkembang cukup cepat dan menarik untuk dinikmati masyarakat sehingga tidak sedikit manusia yang rela terus-terusan mengeluarkan uang untuk mengikuti perkembangan teknologi seperti gadget, netbook, dll. Hal tersebut secara tidak langsung membawa manusia ke lembah hedonisme. Contoh lain ketika manusia terlalu asik dengan gadget nya hingga terkadang lupa akan kewajiban secara spiritualnya, hidup secara apatis, dan lain sebagainya. Sebagai manusia tentu kita tidak dapat mengasingkan diri dari teknologi dengan kemudahannya namun sebagai manusia yang bijak tentu jangan sampai hal tersebut menggerogoti ketaatan spiritual kita dan menodai keharmonisan kita dalam bermasyarakat.



Jumat, 18 Desember 2015

Filsafat Ilmu: REFLEKSI 16 Uji Petik Filsafat “Critique of Pure Reason”

Uji Petik Filsafat
Critique of Pure Reason”

Berikut merupakan refleksi dari pertemuan ke tiga belas perkuliahan Filsafat Ilmu oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A. hari Selasa, 15 Desember 2015 pukul 11.10 - 12.50 WIB di R. 305B Gedung Lama Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta. Pada perkuliahan yang diampu oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A ini diisi dengan “uji petik” seperti yang telah direncanakan pada pertemuan sebelumnya. Ujian ini bertujuan agar mahasiswa menyadari seberapa kemampuan kita dalam memikirkan dan sejauh mana  kita memahami filsafat setelah mengikuti perkuliahan.

Buku yang ditampilkan dalam uji petik kali ini merupakan buku karangan Immanuel Kant yang berjudul Critique of Pure Reason yang ditulis pada tahun 1781. Kita dapat melihat bagaimana Immanuel Kant membuat tulisan dalam bidang filsafat yang dituangkan dalam buku-bukunya. Hal ini menunjukkan bahwa ketika kita orang-orang di Indonesia masih berjuang untuk menjadi manusia, namun Immanuel Kant sudah memikirkan jauh. Dalam uji petik ini dilakukan dengan menampilkan bagian dari buku, kemudian mahasiswa diberikan waktu yang singkat untuk memahami dan menuliskan ide pokok dalam paragraf tersebut dalam satu kata. Kemudian dibahas bersama mengenai what the paragraph talking about. Pada salah soal, ada yang berkaitan dengan time, dimana Kant mendefinisikan tentang waktu. Tulisan Kant tersebut sesungguhnya sangat filosofis, dimana dalam suatu kalimat Kant pun mengatakan bahwa time is not an imperical conception yang berarti bahwa waktu bukanlah pengalaman. Namun waktu memerlukan ruang, jadi waktu tidak mungkin ada jika tidak ada ruang. Sehingga jika kita mendefinisikan waktu harus lah dengan ruang. Kata “kapan” hanya bisa bermakna jika ada “di mana”, maka tidak ada “kapan” jika tidak ada “di mana”. Dalam tulisan Kant tersebut terdapat transcendental expositon of the concept dimana secara sederhananya, ini adalah waktunya para dewa. Kalau dewa terlambat itu dikarenakan ada keperluan lain, tetapi jika daksa yang terlambat maka itu adalah ketidaktahu dirian. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa waktunya para dewa itu berbeda dengan waktunya para daksa. Kemudian terdapat pula transcendental esthetic. Secara hukum kodrat alam, menetukan metode adalah suatu hakekat. Metode tersebut digunakan untuk menentukan nilai kebenaran/etik, setelah itu baru lah digunakan untuk menentukan keindahan/estetika. Secara lengkapnya mengenai apa yang dikemukakan oleh Immanuel Kant dapat dibaca pada buku Critique of Pure Reason.


Demikian refleksi dari perkuliahan Filsafat Ilmu pada pertemuan ke tiga belas. Apa yang telah dilakukan Immanuel Kant tentu menjadi inspirasi bagi kita, dimana ketika saat itu dia sudah berpikiran jauh, memikirkan yang belum terpikirkan oleh yang lain.

Senin, 14 Desember 2015

Filsafat Ilmu: REFLEKSI 15 Jejaring yang Ada dan yang Mungkin Ada

Jejaring yang Ada dan yang Mungkin Ada

Assalamualaikum wr wb
          
Berikut merupakan refleksi perkuliahan Filsafat Ilmu pada hari Selasa, 8 Desember 2015 pukul 11.10 - 12.50 WIB di R. 305B Gedung Lama Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta, Prof. Dr. Marsigit, M.A. setelah pembuatan elegi pemberontakan tes jawab singkat. Mari kita simak bersama.







Jika kita perhatikan pada gambar di atas ada space yang berisi 2+3=5. Maka dari table tersebut, 2+3 dapat disebut sebagai mengada, 2+3=5 sebagai pengada. Dari ruang lain ada gambar berbentuk kotak-kotak, maka dapat disebut sebagai geometri. Selain itu ada juga statistic, integral, formal, psikologi, sosiologi, budaya, ideology, ontology, epistemology, aksiologi, dan lain sebagainya. Betapa hebat dan kayanya filsafat. Ini belum menyangkut yang ada dan yang mungkin ada. Prof. Daviton dari Holic University di Thailand  mempresentasikan matematika antara proses dan produk . Hanya mempresentasikan itu saja bisa masuk makalah internasional. Belum lagi menyangkut yang ada dan yang mungkin ada. Dalam filsafat, wadah dan isi itu menerangkan bentuk dan substansinya. Jadi penjumlahan, substansinya agar dipahami orang awam adalah “gabungan”. Tahukah perbedaan 2+3 dan 2+3=5? Perbedaannya adalah jika 2+3 adalah hakekat proses, sedangkan 2+3=5 adalah hakekat produk. Lalu apa hakekat menjumlah? Secara filsafat berbeda dengan 2+3 dan 2+3=5.Terkait dengan epistemology maka menyangkut benar dan salah. Sedangkan aksiologinya itu menyangkut etik dan estetika. Etik berkaitan dengan pantas atau tidak pantas (baik atau buruk). Sedangkan estetika adalah keindahan. Apakah keindahan bisa menentukan baik dan buruk? Apakah baik dan buruk selalu termuat keindahan? Apa yang dianggap baik, belum tentu termuat keindahan dan keindahan pun belum tentu bisa menentukan baik atau buruk, karena semua tergantung dengan ruang dan waktu.

Terkait dengan kolom “jodoh”, maka istilah yang sering dipakai oleh awam adalah pasangan. Ada dari jodoh dan pasangan adalah ada dan yang mungkin ada. Pengadanya adalah yang ada dan yang mungkin ada. Sementara itu mengadanya adalah sintesis. Psikologinya adalah memasangkan, sedangkan sosiologinya adalah hubungan. Budayanya adalah karya budaya. Kemudian untuk ontologinya adalah wadah dan isi dari yang ada dan yang mungkin ada, epistemologinya adalah hermeunitika, dan estetikanya adalah harmoni. Sementara itu formalnya adalah fungsi (perjodohan). Inilah matematikanya filsafat, termasuk matematika dari situ, termasuk pula jodoh, dan sebagainya Jadi sesungguhnya filsafat adalah mengekstensi dan mengintensi ruang dan waktu.

Setelah itu, kemudian Prof Marsigit mempersilakan mahasiswa untuk bertanya. Kali ini pertanyaan diajukan oleh Sdri Nurafni mengenai Apakah ada bumi lain di luar bumi ini?
Tanggapan Prof Marsigit:
Kita baru pada tataran filsafat dengan bahasa analog atau pengandaian. Bahasa dari Tuhan itu sangat lengkap pada level-level tertentu. Jadi itulah tugas manusia untuk mempelajari dari firman-firman Tuhan. Misalnya terminologi surga dan neraka, apakah surga dingin dan neraka panas? Sesungguhnya dingin dan panas adalah psikologi manusia, dingin sekali saja bisa dirasakan panas. Saya terus terang tidak paham dengan bahasa-bahasa yang sudah sangat tinggi seperti itu. Dalam filsafat saja memakai analogi atau perumpamaan. Jadi secara logika sebagaian dari misteri itu dapat dipecahkan dengan perumpamaan-perumpamaan. Tetapi masalahnya di dalam agama ada yang bersifat formal, tidak sembarangan diterjemahkan. Kemudian dapat diikhtiarkan menggunakan pikiran manusia. Pikiran manusia dengan teknologinya, namun secanggih apapun teknologi tersebut tidak semua dapat memecahkan misteri yang anda tanyakan seperti itu Oleh karena itu  perlu diekmbalikan pada referensi ayatnya. Adapun salah satu cara pemahaman dengan pemikiran, maka perlu mendefinisikan. Kita dapat menambahkan pemikiran kita secara subjektf. Itu lah yang dimaksud struktur. Jangan kan langit, atau pun surga dan neraka, kalau kita berbicara pikiran kita saja berstruktur. Struktur dari tidak ada struktur pun itu adalah struktur. Tidak percaya filsafat pun termasuk berfilsafat, maka tidak ada struktur pun adalah struktur dimana tidak ada struktur. Struktur paling primitive yaitu ruang dan waktu. Maka sampai akhir pun tidak dapat dijelaskan.

Demikian refleksi dari perkuliahan Filsafat Ilmu pada hari Selasa, 8 Desember 2015. Semoga dapat menambah wawasan keilmuan kita dan menjadi motivasi kita untuk terus belajar.


Wassalamualaikum wr wb

Sabtu, 12 Desember 2015

Elegi Pemberontakan Tes Jawab Singkat


Sebelum mengawali perkuliahan Filsafat Ilmu pada hari Selasa, 8 Desember 2015 pukul 11.10 - 12.50 WIB di R. 305B Gedung Lama Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta, Prof. Dr. Marsigit, M.A. memberikan elegi yang kemudian beliau beri judul “Pemberontakan Tes Jawab Singkat”. Sebenar-benar filsafat yaitu memperbincangkan yang ada dan yang mungkin ada. Masing-masing dari yang ada dan yang mungkin ada mempunyai sifat yang begitu banyaknya, semilyar dipangkatkan semilyar pun belum mampu menyebutkan sifatnya secara lengkap. Elegi Tes Jawab Singkat ini pun merupakan elegi yang memperbincangan yang ada dan yang mungkin adam. Mari kita simak bersama.

Elegi Pemberontakan Tes Jawab Singkat

Begawat
Wahai tes jawab singkat nampaknya aku kok melihat dirimu sepertinya tak gembira dan tampak bersungut-sungut

Tes Jawab Singkat
Bukankah Tuan sendiri yang menyebabkan seperti ini keadaannya. Wahai Begawat jika engkau memang ingin disebut Begawat.

Begawat
Aku subjek dari objek. Jika aku pembuat soal, maka aku subjek dan soal adalah objek. Jika aku begawat maka objeknya cantraka. Kalau aku dosen sebagai begawat maka kalian mahasiswa adalah catraka. Kalau aku dewa, anda lah daksanya. Kaya gitu kok repot namanya saja bahasa analog.

Tes Jawab Singkat
Wahai Begawat kenapa engkau bicara sendiri ngalor ngidul ngga karu-karuan? Bukankah engkau itu baru saja bertanya kepada saya mengenai keadaan saya?

Begawat
Oh iya ya lupa, sorry ya…hehehehhehehe
Namanya juga filsafat. Filsafat itu memperbincangkan yang ada dan yang mungkin ada. Kenapa engkau bertanya tes jawab singkat? Sudah sering kali aku katakan sekarang ini engkau sudah menjadi mitos. Semua para cantraka itu takutnya sama engkau. Tidak mau lagi belajar filsafat. Dia pikir hidup ini hanya dipenuhi oleh dirimu. Yang penting adalah dirimu. Maka aku sebagai dewamu akan mengambil sikap, mengambil langkah dan mengingatkan dirimu. Tetapi rupanya engkau tak tahu diri. Maka marahlah aku kemarin. Aku memperagakan sebetul-betul diriku sebagai seorang dewa bagi dirimu. Kalau aku sudah marah maka nampak kejam sekali. Bukankah engkau sudah merasakannya? Maka berhati-hatilah bahwa sebenar-benar musuhmu sebagai mitos adalah logosku.

Tes Jawab Singkat
Iya iya iya… Saya tahu. Baik lah Begawat tetapi saya merasakan sebenar-benar dirimu kemarin adalah berlaku tidak adil kepada saya. Engkau berlaku semena-mena, sangat kejam dan mencampakkan diriku seakan-akan aku tiadalah arti di dunia ini.

Begawat
Lalu apa yang sebenarnya engkau inginkan?

Tes Jawab Singkat
Yah ketika seseorang sudah tertutup mata hati dan pikirannya. Apalah guna sebuah saran, usul apalagi nasehat? Anda sendiri yang memulai, tentu anda sendiri yang mengakhirinya, dan anda sendiri yang mengetahuinya. Namun kenapa aku yang disuruh memberikan solusi. Sebenar-benar diriku tidak lah berdaya di depanmu.

Begawat
Ooooooh begitu… Singkat kata engkau itu menuntut keadilan?

Tes Jawab Singkat
Iyalah…... Apalagi? Bukankah engkau sebenar-benar Sang Begawat tahu bahwa sejelek-jelek diriku ada manfaatnya. Engkau gemborkan kesana kesini mengatakan manfaatku untuk mengadakan yang ada dan yang mungkin ada. Namun kenapa engkau telah tergoda berlaku parsial dan dzolim terhadap diriku? Padahal sebenar-benar diriku itu ada, mengada dan ada pengadanya di dalam dirimu atau di luar dirimu.

Begawat
Kalau begitu apa sebetulnya keinginanmu? Tolong sampaikan kepada saya, wahai tes jawab singkat. Sekali lagi saya tidak bisa memberikan solusi dan saya juga tidak perlu bertanya lebih banyak tentang dirimu karena aku telah engkau perlakukan dengan semena-mena. Ada di sini cantraka yang kemarin tidak masuk makanya sedikit blank.

Tes Jawab Singkat
Oh siapa?

Begawat
Itu Bu Retno itu...

Tes Jawab Singkat
Wahai Begawa, berhati-hatilah engkau, jangan mentang-mentang kamu sedang berkuasa. Suaramu itu direkam di mana-mana dan bisa diperdengarkan. Kalau rekaman itu isinya salah, maka itu mah ilegal. Karena yang legal hanya yang benar-benar saja. Wahai orang tua berambut putih, tolonglah diriku, aku ingin minta tolong kepadamu sekaligus mengajukan pertanyaan. Tolonglah diriku untuk menghadapi Sang Begawat yang saat ini telah menjelma menjadi mitos melebihi diriku.

Orang Tua Berambut Putih
(konvensi tidak tertulis, orang tua berambut putih akan selalu datang jika ada pertanyaan)
Hae hae hae hae hae, Sekali lagi, hae…........
Ada apa wahai tes jawab singkat, engkau mengajukan pertanyaan kepada diriku? Padahal sebenar-benar diriku akan muncul di manapun dan kapanpun jika ada pertanyaan. Silakan ajukan pertanyaanmu dan apa persoalanmu?

Tes Jawab Singkat
Baiklah orang tua berambut putih. Sadar atau tidak sadar, diketahui atau tidak diketahui, pasti engkau sadar dan pasti engkau mengetahuinya.  Kan begitu. Inilah aku sedang mengalami situasi di mana aku didzolimi. Luar biasa. Selama ini aku terus terang telah mengambil manfaat dari logos untuk menjadi mitos, tapi ternyata logos telah menjadi mitos. Logos Begawat telah menjadi mitos Begawat. Nah untuk itu saya mengajukan pertanyaan atau mohon solusinya. Apakah yang harus saya kerjakan?

Orang Tua Berambut Putih
Benar Begawat? Apakah begitu kejadiannya?

Begawat:
Kejadian yang mana?

Orang Tua Berambut Putih:
Oooo yaaaa… Ternyata aku juga sudah mengetahui bahwa Sang Begawat sedang tertutup mendung hati dan fikirannya. Wahai Begawat, Begawat! Hai Begawat! Banguuuun!!!!!!!!!!!

Begawat:
Ouk ouk ouk...
Ouk ouk ouk yaaa...
Ouk ouk ouk...
Ouk ouk ouk yaaa...

Orang Tua Berambut Putih:
Hukumnya, betapa pun hebatnya engkau Begawat, engkau tentulah harus takut juga dengan Orang Tua Berambut Putih. Karena engkau adalah obyeknya dan karena engkau adalah sifatnya. Aku peringatkan kepada dirimu dalam waktu yang sebatas ini, ketahuilah bahwa dirimu telah bersifat parsial. Ketahuilah pula bahwa sifat parsial itu sumber ketidakbahagiaan di dunia. Lihatlah Cantraka itu mereka pontang panting kesana kesini. Itu fenomena Cantraka, engkau tidak  bisa merasakan bagaimana susah dan sedihnya seorang Cantraka mengikuti jejak klaim yang engkau dirikan seakan-akan sebagai mitosnya logos.

Begawat:
Heeeeeeemmmmmm mitosnya logos??????????

Orang Tua Berambut Putih:
Logosnya mitos!!!!!!!!!

Begawat:
Heeeeemmmm logosnya mitos?????????

Orang Tua Berambut Putih:
Mitosnya mitos!!!!!!!!!!

Begawat:
Heeeeemmmmm mitosnya mitos???

Orang Tua Berambut Putih:
Logosnya logos!!!!!!!

Begawat:
Heeeeem logosnya logos????

Orang Tua Berambut Putih:
Logosnya logos logos logos! Mitosnya mitos mitos mitos! Logos logos slogos bathok!
Apakah engkau sadar, wahai Begawat?

Begawat:
Krrrk. Krrrk. Krrrk. Ya ampun….. ya ampun…... Maafkan Tuan, Orang Tuan Berambut Putih. Baru kali ini aku menyadari ternyata ada logosnya dari logos logos.

Orang Tua Berambut Putih:
Logos logos logos. Mitos mitos mitos. Kualitatif kualitatif kualitatif. Kuantitatif kuantitatif kuantitatif, dan seterusnya semaumu, semau kita, semau Cantraka. Itulah dunia menuju kelengkapan dariku diriku yang tidak serba lengkap atau ketidaklengkapan. Oleh karena itu wahai Begawat, dengan ini aku perintahkan kepada dirimu. Berilah kesempatan dan berlakulah adil terhadap mitos-mitos dan logos-logos untuk berikhtiar agar mitos menuju logos. Klaim mu bahwa mitos adalah mitos belum tentu sesuai dengan ruang dan waktunya. Klaim mu bahwa dirimu adalah logos juga belum tentu sesuai dengan ruang dan waktunya.

Begawat:
Singkatnya bagaimana Orang Tua Berambut Putih?

Orang Tua Berambut Putih:
Singkatnya, minggu depan boleh engkau adakan lagi tes jawab singkat.

Orang Tua Berambut Putih Kedua:
Ou ou ou ou ouuuuuuu.......

Begawat:
Ada apa Orang Tua Berambut Putih Kedua?

Orang Tua Berambut Putih Kedua:
Saya telah menyaksikan Sang Begawat mendapatkan wahyu. Karena sang Begawat mendapatkan wahyu, maka tes jawab singkat juga mendapatkan wahyu dan Cantraka juga mendapatkan wahyu. Wahyu berwahyu dan logos berlogos.

Begawat:
Oh begitu… Saya menyadari karena masih banyak yang mungkin ada dan perlu diadakan.


Demikian lah Elegi Pemberontakan Tes Jawab Singkat. Itu lah sebenar-benarnya proses terjadinya elegi. Oleh karena itu sejak awal Prof Marsigit menyampaikan bahwa filsafat itu unik dan aneh kalau sudah terkena ruang dan waktu. Pesan yang ingin disampaikan dalam elegi-elegi adalah aspek dari hermeunitika, yaitu terjemah dan menerjemahkan. Semoga bermanfaat.

Minggu, 06 Desember 2015

Filsafat Ilmu: REFLEKSI 14 Aku Terjebak Mitos Sang Begawat


Aku Terjebak Mitos Sang Begawat
Venti Indiani | 15709251057

Assalamualaikum wr wb

Berikut merupakan refleksi dari pertemuan ke sepuluh perkuliahan Filsafat Ilmu oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A. hari Selasa, 1 Desember 2015 pukul 11.10 - 12.50 WIB di R. 305B Gedung Lama Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta. Pada perkuliahan yang diampu oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A ini dilakukan dalam dua sesi, yaitu sesi tes jawab singkat dan yang kedua sesi penjelasan dari soal tes jawab singkat.

Berikut merupakan soal tes jawab singkat yang diberikan oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Idealnya realis?
Realisnya ideal?
Tetapnya perubahan?
Berubahnya ketetapan?
Fatanya vital?
Vitalnya fatal?
Dewanya dagsa?
Daksanya dewa?
Intensifnya ekstensif?
Ekstensifnya intensif?
Linearnya siklik?
Sikliknya lineal?
Lampaunya sekarang?
Sekarangnya masa lampau?
Sama datangnya sekarang?
Sekarangnya masa yang akan datang?
Awalnya akhir?
Akhirnya awal?
Analitiknya sintetik?
Sintetiknya analitik?
Apriorinya aposteriori?
Aposteriorinya apriori?
Rasionalnya pengalaman?
Pengalamannya rasional?
Identitasnya kontradiksi?
Kontradiksinya identitas?
Harmoninya disharmoni?
Disharmoninya harmoni?
Idealnya ideal?
Realnya real?
Tetapnya tetap?
Berubahnya perubahan?
Fatalnya fatal?
Vitalnya vital?
Dewanya dewa?
Daksanya daksa?
Intensifnya intensif?
Ekstensifnya ekstensif?
Linearnya lineal?
Sikliknya siklik?
Lampaunya lampau?
Sekarangnya sekarang?
Masa depannya masa depan?
Awalnya awal?
Akhirnya akhir?
Analitiknya analitik?
Sintetiknya sintetik?
Apriorinya apriori?
Aposteriorinya aposteriori?
Rasionalnya rasional?
Pengalamanya pengalaman?
Identitasnya identitas?
Kontradiksinya kontradiksi?
Harmoninya harmoni?
Disharmoninya disharmoni?

Dari 55 soal yang diberikan, semua mahasiswa mendapatkan nilai 0. Artinya tak ada satu pun soal yang kami jawab dengan benar. Betapa terkejutnya kami ketika Prof Marsigit mengatakan bahwa sejatinya kami telah terjebak oleh mitos-mitos Prof Marsigit. Filsafat tidak mengenal ujian jawab jawab singkat. Sejatinya makna atau esensi dari tes jawab singkat hanyalah untuk mengenalkan filsafat bagi para awam yang sedang akan belajar mengenal filsafat. Filsafat bukanlah ketika kita mampu menjawab soal tes jawab singkat. Filsafat adalah kemampuan kita menjelaskan. Berkaitan dengan soal nomor satu mengenai IDEALNYA REALIS, Prof Marsigit mengemukakan bahwa filsafat adalah membaca. amaka dunia dapat terangkai dari satu ikon yaitu ideal, untuk memunculkan ilmu maka ideal dan realis dipersatukan mejadi satu. Itulah apa yang disebut dengan idealnya realis. Sejatinya penjelasan apa itu idealnya realis yang merupakan filsafat.
Jika kita sadari adanya tes jewab singkat ibarat pisau yang mempunyai dua sisi yang berbeda. Pada satu sisi bernilai positif dan sisi yang lain bernilai negatif. Seperti inilah jika kita menilai filsafat dari metode reduksi tes jawab singkat sebagai ikon, dimana memiliki bahaya yang luar biasa, sebab filsafat itu elegan yang mengandung penjelasan logis sehingga dapat dipahami oleh orang awam sekalipun. Pada soal tes jawab singkat yang diberikan sejumlah 55 soal dibagi menjadi dua bagian. Nomor 1-28 merupakan kontradiksi sementara nomor 28 ke bawah adalah identitas. Namun lagi-lagi berfilsafat bukanlah mengenai jawaban apa yang benar, namun lebih kepada kemampuan kita menjelaskan.
Setelah menunjukkan maksud dari tes jawab singkat, kemudian dibahas beberapa nomor dari soal untuk dijelaskan. Dimulai dari nomor satu mengenai IDEALNYA REALIS. Inti dari soal ini adalah tentang realis. Jika kita mempelajari tentang realis dari semua sumber maka sesungguhnya kita tidak akan pernah tahu apa realis itu. Sebenar-benar filsafat adalah olah pikir yang terus menerus serta membaca sumber-sumber relevan. Realis ada di luar pikiran. Apa yang ada di luar pikiran itu tidak ada yang ideal. Di dunia ini tidak ada yang sempurna, sebagai contoh sudut lancip yang menurut dunia itu ada tetapi sesungguhnya tidak ada. Salah satu fakta yang bisa dilihat adalah  jarum, dimana menurut penglihatan atau realita ujungnya berbentuk lancip, tetapi sesunggunya jika ujung tersebut diperbesar maka bukanlah lancip tetapi sebuat lingkaran besar yang biasa disebut atom yang memiliki lintasan siklik. Jadi lancip itu hanya ada di pikiran.
Soal nomor dua mengenai REALISNYA IDEAL. Contohnya seorang manusia secara ideal akan menikah maka ketika sudah menikah itulah realitanya. Proses inilah yang disebut idealis di realiskan atau realisasinya ideal. Kemudian berkaitan dengan soal nomor tiga mengenai TETAPNYA PERUBAHAN Contoh yang bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari yaitu tetapnya pertumbuhan badan (badan tetap mengalami perubahan baik itu berkembang/menyusut sementara badan sendiri mengalami perubahan). Oleh karena itu, manusia berada dalam wadah yang tetap dalam perubahan, dan apabila tidak berubah menyebabkan ketidakstabilan bahkan kehancuran. Soal ke empat mengenai BERUBAHNYA YANG TETAP, salah satu contohnya adalah batalnya perjanjian. Perjanjian merupakan suatu yang tetap. Maka ketika di batalkan maka ketetapan tersebut mengalami perubahan. Soal berikutnya tentang VATALNYA FITAL. Lalu apakah vital itu takdirnya? Untuk memandang hal ini maka tentu berdimensi. Jika ditinjau dari sisi spiritual maka tentu ikhtiar adalah takdir. Takdir dan ikhtiar berarti doa dan usaha. Jadi vatalnya fital adalah doanya berusaha. Maka inilah cara untuk mencapai keseimbangan atau harmoni. Soal berikutnya tentang FATALNYA VITAL. Hal tersebut dapat diartikan sebagai ikhtiarnya takdir (doa). Apakah doa itu perlu diikhtiarkan? Tentu perlu. Hal ini dapat dilakukan misalkan sengan ikut sholat berjamaah, belajar bagaimana cara berdoa, dan lain sebagainya. Pembahasan berikutnya mengenai DAKSANYA DEWA. Jika membahas ini berarti kita sadari bahwa ini adalah dunia dewa yang berstruktur yang terdiri atas dewanya subjek dan dewanya objek. Sebagai contoh jika dosen-dosen di UNY merupakan  para dewa maka tentu ada struktur dewa didalamnnya yang membedakan dosen (dewa) yang satu dengan yang lain jika dilihat dari sisi pangkat atau jabatan. Inilah yang disebut daksanya dewa. Selanjutnya dijelaskan tentang INTENSIFNYA EKSTENSIF. Ekstensif merupakan suatu keluasan. Sementara intensif adalah sedalam-dalamnya. Jadi dalam mendalami filsafat tidak hanya disini tetapi disitu, diberbagai tempat, ini berarti bahwa dalam berpikir sejatinya dapat dilakukan kapanpun, dimanapun dan dalam kondisi apapun. Soal selanjutnya yaitu mengenai EKSTENSIFNYA INTENSIF. Sedalam-dalamnya segala sesuatu adalah ontology atau isi dan wadah. Jika dinaikan menjadi bakal konsep maka jika diekstensifkan konsep 1 dan konsep 2 akan berstruktur. Inilah bentuk ekstensif dari intensif. Kemudian dibahas tentang LINEARNYA SIKLIK. Siklik berarti lingkaran yang jari-jarinya tak berhingga sehingga membentuk garis lurus. Contoh yang dapat menggambarkan ini adalah pesawat terbang ketika mengudara. Sejatinya lintasan dari pesawat terbang tersebut tidaklah selalu lurus (meskipun sebagai penumpang kita merasa bahwa pesawat bergerak lurus) tetapi pesawat tersebut juga terkadang berbelok sehingga membentuk lintasan siklik. Selanjutnya pertanyaan dari Sdr. Heru Tri Novi R tentang HARMONINYA HARMONI. Harmoni merupakan keadaan ideal dan seimbang. Sebagai contoh gamelan jawa itu harmoni sebab musiknya saling seimbang. Harmoni itu sendiri itu berstruktur dan berdimensi yang terdiri atas struktur atas unsur-unsur yang harmoni. Sebagai contoh, badan manusia terdiri atas bagian yang harmoni, dan setiap unsur badan seperti darah dan lain sebagainya terdiri atas unsur yang harmoni pula. Pertanyaan kedua dari Sdri. Venti Indiani mengenai DEWANYA DEWA. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dewa ini berstruktur. Misalnya makro kosmos dewanya mikro kosmos. Dewanya makro kosmospun ada yang bersifat refrensial, intuisi dan analogis. Kakak adalah dewa bagi adik, ayam adalah dewa bagi cacing. Contoh tersebut disajikan secara analogis. Oleh karena itu filsafat dikenal dengan bahasa analog. Pembahasan selanjutnya mengenai LAMPAUNYA LAMPAU. Sebagai contohnya Prof Marsigit mengilustrasikan dengan ketika beliau ditelepon pada waktu lampau. Maksud ditelepon masa lampau disini adalah beliau berbicara melalui saluran telepon dengan  seseorang tentang masa lampau yang membahas tentang kehidupan masa lalu. Kondisi yang sama dengan bagaimana mengetahui waktu yang akan datang, salah satu contoh yang diberikan adalah  USG yang tujuannya untuk mengetahui jenis kelamin seorang anak, dimana idealnya akan diketahui setelah lahir akan tetapi dengan alat tersebut bisa diketahui dari sekarang. Selanjutnya pertanyaan dari Sdri. Fauziah Artanti mengenai AKHIRNYA AKHIR. Contoh kasusnya perkuliahan ini berakhir dan kuliah di UNY pasti berakhir. Namun yang menjadi pertanyaan adalah kapan akhiran itu? Maka untuk menjawaban hal ini diperlukan olah pikir yang diungkapan dalam bahasa verbal. Sebagai contoh ketika kita menempuh perjalanan dari kamar menuju kampus maka sebenarnya kita mencoba menempuh setengah demi setengah perjalanan tanpa tahu kapan batasnya. Melalui analogi ini maka ada sebuah kesimpulan bahwa orang tidak pernah sampai pada tujuan. Oleh karena itu, kita tidak akan pernah tahu berakhirnya kapan. Maka akhir yang kita pikirkan sekarang ini, secara spiritual merupakan kiamat yang merupakan akhir dari segala akhir, dimana manusia tidak mampu memikirkannya sebab ini merupakan kekuasaan Allah SWT. Jika kita melihat melalui strukturnya tentu bahwa akhir itu terdiri atas struktur-sruktur akhiran juga, misalkan akhir perkuliahan, akhir perjalanan, akhir acara, dan seterusnya. Selanjutnya dibahas mengenai APRIORINYA APOSTERIORI. Aposteriori adalah paham sesudah melihat, mendengar, dan lain sebagainya. Jadi apriori aposteriori adalah memikirkan pengalaman. Sejatinya sebenar-benar hidup adalah memikirkan pengalaman dan menerapkan pikiran. Selanjutnya mengenai KONTRADIKSINYA KONTRADIKSI. Kontradiksi dibuat agar kita bisa berpikir. Jika kita mencermati dalam kehidupan sehari-hari maka sebenatnya ilmu pengetahuan lahir dari kontradiksi, dari kontradiksi tersebut maka memacu kita untuk berpikir mencari jalan keluar dari apa yang kontradiksi tersebut.

Setelah perkuliahan sampailah saya pada kesimpulan bahwa tes jawab singkat bukanlah cara belajar filsafat. Karena sejatinya tes jawab singkat semata-mata untuk mengenalkan filsafat bagi para pemula. Yang penting dari filsafat bukanlah jawaban dari tes jawab singkat namun lebih kepada bagaimana kemampuan kita untuk menjelaskan. Selama ini kami terlena dan terhanyut pada mitos-mitos pada tes jawab singkat. Semoga selanjutnya bertambah kewaspadaan kita terhadap mitos-mitos yang ada.

Wassalamualaikum wr wb.

Minggu, 22 November 2015

Filsafat Ilmu: Aku Tak Mampu Lari dari Fenomena Comte

Assalamualaikum wr. wb.

Berikut saya sajikan sebuah tulisan dengan tema “Aku Tak Mampu Menghindari Dahsyatnya Fenomena Comte” untuk memenuhi tugas Filsafat Ilmu yang diampu oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A. Mohon maaf jika ada kesalahan atau kata-kata yang tidak berkenan di hati pembaca. Kritik dan saran sangat penulis harapkan. Namun semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca semua, terutama menambah semangat dan motivasi bagi teman-teman sejawat yang saat ini sedang berjuang membaca elegi untuk menambah wawasan dalam belajar filsafat ilmu.


Aku Tak Mampu Menghindari Dahsyatnya Fenomena Comte
Venti Indiani | 15709251057

Siang-siang di bawah pohon diterpa sepoi-sepoinya angin si Daksa termenung, memikirkan nasibnya yang hampir diambang kegagalan berfilsafat. Dalam hatinya berkali-kali ia mengumpat dirinya sendiri yang tidak bisa memanajemen waktu dengan baik. Rupanya dirinya sedang galau karena ia belum banyak membaca elegi dalam blog Sang Begawat sehingga komen-komen yang dibuatnya pun masih minim sekali. “Ah aku terancam gagal. Bodohnya diriku. Tak memanfaatkan waktu dengan baik. Huhh!”. Dalam kegalauannya tiba-tiba muncul Sang Bagawat sehingga mengagetkannya.

Begawat
Ada apa kiranya kamu melamun di sini wahai anak muda?

Daksa
Anu, anu, anuuuu.. begawat..ini tidak sedang apa-apa.

Begawat
Daripada kamu di sini termenung begitu, selesaikan saja kewajibanmu. Bukankah kewajibanmu sudah mendekati deadline? Jangan sampai kamu menyesal.

Daksa
Tolonglah Begawat, beri kami perpanjangan waktu lagi. Plis....

Begawat
Hahh? Aku sudah memberimu waktu dari awal perkuliahan bukan?

Daksa
Maafkan kami Begawat. Kami terlalu sibuk Begawat.

Begawat
Coba jabarkan kesibukanmu wahai anak muda.

Daksa
Pagi hari kami kuliah, Begawat. Ya mungkin di kampus sampai siang atau sore. Setiba kami di rumah, kami buka-buka HP kami. Kami sibuk membaca recent update di BBM, kami sibuk membuat caption yang pas untuk foto yang akan kami posting di Instagram, kami sibuk cek in di Path, kami sibuk chat di whatshapp, kami sibuk main game COC. Ya tak terasa satu jam, dua jam, tiga. Setelah itu tak terasa kami tidur dan bangun tau-tau sudah pagi Begawat. Sampai-sampai terkadang kami lupa tugas kami, kami lupa ibadah kami.

Begawat
Segeralah minta ampun wahai anak muda. Banyak-banyaklah beristigfar. Sebenar-benarnya kamu sedang terjangkit dahsyatnya fenomena Comte.

Daksa
Apa itu fenomena Comte, Begawat?

Begawat
Bukankah minggu lalu kita sudah membahas ini?

Daksa
Mohon ampun Begawat. Mungkin ketika itu pikiranku kemana-mana. Aku sibuk memikirkan yang seharusnya tidak aku pikirkan di kelas. Aku risau karena tidak bisa membuka HP ketika perkuliahan, aku sibuk memikirkan game online ku. Aku mohon ampun Begawat.

Begawat
Segeralah minta ampun wahai anak muda. Banyak-banyaklah beristigfar.

Daksa
Lalu bagaimana Begawat, aku belum banyak membaca elegimu. Aku belum banyak membuat komen. Aku bingung aku harus bagaimana. Ketika aku di rumah, aku sudah berniat membaca blog. Tapi ada chat masuk, akhirnya aku lupa membaca blog. Ketika aku sudah mau membaca lagi, eh ada teman mengomentari postinganku di Instagram, akhirnya aku kelupaan karena asik dengan Instagramku.

Begawat
Segeralah minta ampun wahai anak muda. Banyak-banyaklah beristigfar. Manfaatkan sisa waktu sebelum deadline sebelum nantinya kau menangis karena kegagalanmu. Jangan sampai dirimu hanya berlarut-larut dalam lubang penyesalan masa lalu mu.

Daksa
Baiklah Begawat. Tapi ngomong-ngomong fenomena Comte yang tadi Begawat katakan apa artinya?

Begawat
Coba kau ulangi lagi apa yang membuat dirimu abay terhadap kewajibanmu.

Daksa
Pagi hari kami kuliah, Begawat. Ya mungkin di kampus sampai siang atau sore. Setiba kami di rumah, kami buka-buka HP kami. Kami sibuk membaca recent update di BBM, kami sibuk membuat caption yang pas untuk foto yang akan kami posting di Instagram, kami sibuk cek in di Path, kami sibuk chat di whatshapp, kami sibuk main game COC. Ya tak terasa satu jam, dua jam, tiga. Setelah itu tak terasa kami tidur dan bangun tau-tau sudah pagi Begawat. Sampai-sampai terkadang kami lupa tugas kami, kami lupa ibadah kami.

Begawat
Itulah sebenar-benarnya fenomena Comte dalam dirimu wahai anak muda. Engkau dibuat abay dengan kewajibanmu karena candu teknologi. Kau dibuat sampai lupa dengan ibadahmu karena kecanduanmu yang berlebihan pada media sosial. Segeralah beristigfar dan meminta ampun pada Tuhanmu. Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah bertaubat setelah mengetahui kesalahannya.


Kini aku melihat betapa dahsyatnya fenomena Comte yang menyerang keseharianku. Dalam sudut pandang positif, banyak hal menjadi mudah dengan adanya fenomena Comte. Aku bisa berkomunikasi dengan kerabat jauhku, aku bisa mencari informasi apapun dengan cepat. Namun terkadang kemudahan itu membuatku terlena pada kenyamanan sehingga aku abay terhadap kewajibanku. Astagfirullohhaladzim. Aku mohon ampun atas dosaku Ya Allah. Aku mohon ampun. Kini aku belajar bagaimana seharusnya aku bijak menyikapi fenomena Comte. Semoga Allah yang Maha Baik selalu mempermudah diriku untuk bersikap bijak pada ganasnya Fenomena Comte.

Terimakasih,

Wassalamualaikum wr.wb.