Tampilkan postingan dengan label Serba-serbi Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serba-serbi Hidup. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 September 2016

Conversation Course di Lembaga Bahasa Sanata Dharma

Beberapa minggu terakhir saya sering update di sosmed kalau saya sedang ada di Sanata Dharma. Banyak yang chat, ngapain sih di sana (Sanata Dharma)? Kamu kuliah malem di sana? Pacar kamu anak Sadhar ya? Ngga teman-teman..... sebenernya saya cari kegiatan disana dalam rangka mengurangi jam tidur saya hahahahha.

Well, sebenernya dua bulan yang lalu, saya mendaftar english course di Lembaga Bahasa Sanata Dharma. Program yang saya ikuti yaitu conversation class. Ya, sepertinya sudah lebih dari sewindu saya belajar bahasa ini, tapi rasanya masih sangat jauh untuk bisa suatu saat survive di belahan dunia sana dengan kemampuan bahasa yang saya miliki saat ini. Tapi semoga suatu saat bisa mencoret satu dari banyak list impian hidup untuk sekedar “pernah tinggal” di luar negeri. Amiiin, yeay!
Saya bukan tipe orang yang mudah dibuat “nyaman” dengan style belajar yang disuguhkan oleh bimbingan belajar. Tapi di sini, saya jadi lebih bersemangat datang. Nah setidaknya bersemangat datang dan muncul sesal ketika harus absen adalah poin pluuuuss bagi saya yang artinya saya merasa “nyaman”. Thats why, saya coba berbagi informasi tentang program ini. Semoga bermanfaat ya buat temen-temen yang emang lagi butuh informasi semacam ini.
Gimana sih bisa join course ini? Langkah pertamaaa, yup! Kita harus daftar terlebih dahulu di kantor bahasa kampus Sanata Dharma pusat yang ada di Jalan Gejayan Yogyakarta. Disana kita akan dilayani dengan ramah oleh bapak yang bertugas. Ohya, jangan lupa bawa fotocopy ijazah terakhir, kartu identitas, foto 3x4, dan biaya administrasi sebesar Rp 50.000,00. Nanti akan diinformasikan kapan placement test diadakan.
Ohya, sebelum kita mengikuti course ini akan ada placement test terlebih dahulu. Placement test ini akan diadakan dua sesi, writing and speaking test. Nah nantinya akan ada kelas pre-beginner, begginer, upper-beginner, pre-intermediate, etc. Dan kebetulan saya ada di kelas pre-intermediate. Nah untuk biaya nya pun sesuai dengan tingkatan kelas kita. If I am not mistaken, untuk kelas pre-intermediate saya harus membayar Rp 580.000,00 untuk sekitar 26 kali pertemuan dengan durasi 90 menit for each meetings. Hmm worth price lah yaa.
Satu kelas rata-rata hanya akan berisi 10-15 orang. Rasanya cukup efektif kok, supervisor class nya pun asiiiik dan menyenangkan. Dan enaknya lagi, kita bisa pilih jam belajar sore atau malam setelah maghrib. Tentu bisa disesuaikan dengan aktivitas kita. Saya pilih kelas malam doong, karena pagi-siang saya fokuskan kegiatan di kampus. Maklum, masih anak sekolahan heheuuu.

After the class with Mr Daniel
Fyi, teman-teman satu kelas saya kebanyakan mahasiswa magister juga, ada juga yang sudah bekerja. Mereka berasal dari beragam background disiplin ilmu. Jadi selain dapet ilmu tentang how to speak well, kita juga bisa nih nambah ilmu dari perspektif lain. Gimana bisa? Jadi sistem belajarnya ngga Cuma kita disuruh ngapalin ABCD sampai Z, tapi lebih kepada kita disodorin issue atau kasus, kemudian bagaimana tanggapan kita (tentu bagaimana kita menyampaikan pandangan kita disertai dengan beragam ekspresi yang dipelajari). Dari situ saya seringkali tercengang denger pendapat temen-temen lain yang kritis, inovatif. Kadang sampai merasa I am nothing. Tapiiii, nyatanya itu juga yang bikin saya jadi lebih semangat belajar, belajar apapuun. Karena, ya, masih buanyaaaaaak yang tidak saya tahu.
Well, selama dua bulan mengikuti program ini akan ada dua kali test, yaitu mid test dan final test. Masing-masing tes akan terdiri dari writing test dan speaking test. Nilai dari tes ini lah yang konon nanti akan terpampang di sertifikat setelah kita selesai mengikuti program. Tapiii, sertifikat ini hanya akan keluar kalau temen-temen memenuhi kehadiran 75%. Mirip sama peraturan kuliah lah yaa. Tapi gapapa, jadi semangat lebih biar rajin berangkat.
Course ini ngga cuma belajar di kelas ajaa, akan ada satu kali outdoor activity. Jadi semua peserta course dari kelas pre-beginner sampai intermediate gabung jadi satu. Biasanya tema tiap tahun akan berganti-ganti. Seru juga karena nanti akan ada the winner bagi kelompok kelas yang berhasil completing the mission. Lain kali ya akan saya share di sini.
Semoga bermanfaat ya.
Salam,

Indi

Selasa, 15 Desember 2015

Berbuat Baik, Nunggu Mood Baik?

Saya seorang mahasiswi yang secara kognitif biasa-biasa saja. Tidak jadi yang teratas, namun juga ngga di paling bawah (semoga, aamiin). Sebagai mahasiswi yang belum dikaruniai otak cemerlang harusnya dibarengi sama doa dan semangat belajar yang tinggi dong ya biar terhindar dari “terancam lulus hampir cumlaude” (oke, yang hampir hampir itu memang selalu nyeseg). Tapi buruknya saya, semangat belajar seringnya naik turun kaya roller coaster. Dan bisa dipastikan titik puncak semangat ada di detik detik menjelang deadline. Huft.


*maap yaa gambarnya ngga nyambung*


Sebentar, tulisan dibuat ini tidak lebih sebagai pengingat saya pribadi. Tidak bermaksud sok-sok an atau menggurui yaaa hehehe. Nah, saat saya menulis ini, posisi sedang mati lampu. Laptop habis baterai dan hanya hp yang masih nyala. Dan draft tulisan ini pun saya ketik via hp karena bingung mau ngapain.

Jadi begini….Beberapa menit yang lalu, saya sedang semangat-semangatnya nugas. Besok belum deadline sih, tapi karena merasa sedang banyak inspirasi jadilah saya beritikad bulat untuk nyicil tugas. Dan ketika mungkin baru dapet 5%, teeeeetteetttttt listrik mati. Ya Allah nyeseg bukan main gaess. Disaat ngrasa semangat banget nget nget dan ide juga kayanya lagi bermunculam tiba2 pfttt listrik mati dan laptop ikutan mati karena batrai habis bis bis.

Sepele sih yaaa, tapi sambil tiduran di kegelapan saya jadi mikir. Oh iya yaaa…. Masih untung besok bukan deadline saya. Coba kalau besok deadline saya, pasti malem ini saya nangis guling-guling ngga ketulungan karena baru kelar 5% dan besok udah harus dipresentasiin.

Kasus lain yang akhirnya bikin saya instropeksi adalah kejadian awal bulan Desember ini. Kalau ngga salah waktu itu hari Senin. Senin memang tidak ada jadwal kuliah tetap karena senin tempatnya mata kuliah pengganti. Hari selasanya saya harus ngumpulin 3 tugas. Nah Senin pagi bersemangatlah saya untuk ke Perpustakaan buat ngerjain tugas. Teteteeeeetttt jam 7.30 saya sudah siap dan langsung berangkat ke kampus. Ngga ada hujan ngga ada angin, tiba tiba saya mendadak lemes mual pusing mules dan berujung pada keringat dingin. Rasanya dijalan udah mau pingsan bahkan sempet  m*ntah di jalan. Akhirnya saya berenti sejenak dan putar balik karena nggrasa udah ngga kuat. Ternyata hari itu saya datang bulan dan dibarengi dengan masuk angin kali yaa. Jadilah seharian saya hanya tidur guling guling di kasur karena nahan sakit. Apakabar tugas? Yaaah bisa dipastikan, baru tengah malam saya ngerjain dan itu bikin kepala pusing antara mikir dan tekanan batin takut kalau ngga kelar.

See? Saya bersemangat bahkan ngga ada kuliah pun 7.30 saya sudah siap berangkat ke Perpus untuk ngerjain. Tapi…… apa daya ternyata ada hal lain diluar kendali yang ngga support. Kita bisa apa?

Jadi pada intinya, ngerjain sesuatu yang baik (re: ngerjain tugas) jangan cuma nunggu mood baik, jangan nunggu mepet deadline, jangan nunggu punya ide cemerlang (ngomong di depan kaca). Karena halangan dan rintangan yang menghadang tidak semata-mata dari dalam diri kita. Faktor luar pun kadang ikut nimbrung tanpa permisi. Dari diri kita udah semangat udah on fire banget. Tapi tiba2 alam ngga support. Kita bisa apa?

Ketika tulisan ini saya publish di blog berarti listrik sudah nyala. Saya bisa melanjutkan nugas? Bisa dong. Tapi semangat? Belum tentu se on fire tadi. Ide? Bisa jadi yang tadi penuh di kepala sudah melayang-layang entah kemana.

Salam,
Indi



Jumat, 27 November 2015

Euforia Wisuda

Seharusnya malam ini tugas saya menyusun teknik analisis data untuk tugas mata kuliah metodologi penelitian pendidikan. Namun entah kenapa saya sedikit merasakan kembali euforia ketika wisuda Juni 2015 kemarin setelah melihat beberapa teman yang memposting foto pelepasan wisuda menjelang wisuda esok hari. Akhirnya saya putuskan untuk menulis ini. Sekedar curhat, dan maaf jika terlalu emosional.
Wisuda. Tadinya saya rasa wisuda tidaklah sebegitu keren untuk dibahas. Apalah arti wisuda jika setelah wisuda saya masih bingung mau ngapain atau kerja dimana dan lain sebagainya. Sampai-sampai jujur, beberapa bulan setelah wisuda pun saya ngga berani memposting foto wisuda saya. Kenapa? Ya, saya terbebani dengan opini orang. Apa yang akan saya jawab ketika mereka bertanya target kamu selanjutnya apa? Mau kerja dimana? Atau mau nikah? Aduuuh, saya termasuk orang yang sedikit anti untuk berkoar-koar mengenai rencana hidup saya. Hehe. Meskipun saat itu saya memang sudah berencana untuk melanjutkan studi saya. Namun, mendaftar program pasca tidak secepat itu dinyatakan diterima. Harus ada serangkaian prosedur dan itu berbulan-bulan. Dan saat itu kondisi saya setelah wisuda tidak bekerja dan belum ada kepastian apakah saya diterima di program pasca atau tidak. Ya, pada intinya saya tidak memposting hari bahagia saya karena ketakutan akan pertanyaan yang saya duga akan mengalir deras. Hehe.
Namun tadi pagi, salah satu teman saya yang akan diwisuda besok datang ke kost saya. Dia tampak bahagia sekali. “Beb, Ya Allah akhirnya besok aku diwisuda” dengan gaya kegirangan. Ngga tau kenapa dari tadi pagi saya kepikiran tentang wisuda. Menjadi wisudawan tentu impian setiap mahasiswa. Tapi kenapa saat itu saya merasa, ah biasa saja. Apakah mungkin karena saya diberikan kemudahan untuk lulus lebih cepat dari teman-teman sehingga saya menganggap itu hal biasa. Jika itu benih sombong, Ya Allah astagfirullohaladzim, mohon ampun Ya Allah. Tapi semoga tidak, karena kembali di awal, rasanya tidak begitu membanggakan bagi saya ketika lulus tapi belum jelas mau seperti apa setelahnya. Daaaan setelah pertemuan saya dengan teman saya tadi, saya sedikit tersadar. Mau kamu udah kerja sebelum wisuda, mau kamu uda dapet beasiswa sebelum lulus, wisuda tetaplah salah satu prosesi sakral yang akan terjadi sekali seumur hidup (selama S1). Ada kebahagiaan mendalam disana karena kamu berhasil melewati masa-masa mulai tidak mengenal kalkulus dan harus belajar aljabar, aljabar abstrak, analisis real, statistika lanjut, dan teman-temannya. Ada kebahagiaan disana ketika kamu akhirnya bisa melewati masa tangismu karena ngga tau analisis real itu apa. Ada kebahagiaan disana ketika kamu akhirnya bisa melewati masa tangismu karena  ngga bisa ngerjain soal ujian. Dan satu hal yang paling membahagiakan ketika melihat Bapak dan Ibu tersenyum di deretan bangku wali mahasiswa melihat anaknya akhirnya lulus.



Foto di atas saya temukan tadi sore di dalam folder foto pada saat saya wisuda. Entah foto itu diambil saat momen apa. Tapi melihat foto itu tadi saya sempat rada mau nangis. Hehe maklumlah saya mungkin orang paling gampang nangis kalau membahas masalah orang tua. Yang di belakang saya itu Bapak dan Ibu saya. Ngga tau kenapa saya seneng banget dengan foto itu. Rasanya foto itu menggambarkan posisi saya. Saya di depan karena dorongan dan support Bapak dan Ibu di belakang saya. Artinya saya mau sehebat apapun, tentu lebih hebat Bapak dan Ibu saya. Saya bersyukur dititipkan Allah kepada beliau untuk menjaga dan mendidik saya. Mereka yang rela bekerja ngga kenal lelah untuk memberikan kehidupan dan pendidikan yang layak bagi saya dan kedua adik saya. Saya teringat ketika skripsi saya belum rampung, Ibu sudah menyuruh saya menjait kebaya. Katanya biar jadi motivasi buat saya biar segera lulus. Ketika saya masih sibuk bimbingan skripsi, Ibu sudah mempersiapkan kebaya buat saya, dan baju untuk adik-adik saya. Ibu begitu bersemangat merancang kebaya yang akan saya pakai. Kalau teman-teman liat kebaya saya, itu hasil rancangan Ibu. Dan saya nyaman pakainya. Adik-adik saya rela bolos sekolah karena Ibu yang bilang kalau it will only happens once selama saya kuliah di program sarjana. Bapak saya yang sebenarnya orangnya ngga sabaran rela nunggu panas-panasan dan lama karena selepas wisuda saya harus bertemu teman-teman yang udah menyempatkan datang di wisuda saya. Point lain yang saya rasakan dan sadari sekarang adalah dimana momen wisuda itu menunjukkan betapa banyaknya orang-orang yang sayang dan peduli dengan kamu ternyata. Anw sebenarnya saat saya wisuda saya habis patah hati hehehe. Tapi rasanya sakit karena patah hatinya hilang karena sadar bahwa ternyata ada banyak orang yang sayang sama kita. Kaya lagunya Melly Goeslaw, ternyata tanpamu langit masih biru. Hehe. Jadi mungkin yang merasa ngga punya “pendamping” buat wisuda. Santai saja lah gaes. Ngga akan mengurangi kebahagiaanmu J
Anw, selamat untuk teman-teman yang akan diwisuda besok. Semoga keberkahan selalu menyertai kalian. Dan doakan saya agar tahun depan bisa diwisuda lagi. Amiin JJ