Minggu, 22 November 2015

Filsafat Ilmu: REFLEKSI 13 Tanya Jawab Filsafat

Tanya Jawab Filsafat
Venti Indiani | 15709251057


Assalamualaikum wr.wb

Berikut merupakan refleksi dari pertemuan ke sembilan perkuliahan Filsafat Ilmu oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A. hari Selasa, 17 November 2015 pukul 11.10 - 12.50 WIB di R. 305B Gedung Lama Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta. Pada perkuliahan yang diampu oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A ini dilakukan sesi kedua setelah tes jawab singkat yaitu sesi tanya jawab.

Pertanyaan 1
Nurafni Retno Kurniasih
Apakah soal tes jawab singkat merupakan soal open-ended dimana open-ended itu merupakan soal yang meiliki banyak jawaban benarnya?
Jawaban dari Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Soal-soal dalam tes jawab singkat lebih mementingkan kepada usaha untuk mengadakan dari masih yang mungkin ada menjadi ada. Setidaknya dengan adanya tes jawab singkat ini kita menjadi memikirkan yang tadinya belum terpikirkan bahwa yang namanya suatu sudut pemikiran bukan hanya sebuah sudut melainkan terdiri dari multiple sudut pemikiran. Sehingga kita sebenarnya adalah multifaset yang berdimensi tak berhingga dalam sebuah interaksi. Tidak seperti halnya perwayangan Dasamuka yang memiliki perwayangan hanya sepuluh. Kita sebagai manusia memiliki lebih dari itu sebagaimana ujian tadi yang memiliki minimal 50 sudut pandang. Sehingga sangat sulit dalam menentukan jawaban karena jawaban bersifat icon yang mewakili dunianya. Maka tidak sembarang orang yang membuatnya hanyalah para dewa yang mampu menjawab dengan baik. Hakekat para dewa yang sebenarnya terdapat beda umur, beda pengalaman beda dimensi, dan sebagainya. Seseorang yang tidak tahu pun menjadi tahu telah menjadi dewa bagi dirinya sendiri. Jadi orang yang tidak paham selalu dihantui dengan ketakutan mitos padalah sebetulnya kalau diungkapkan “Tiada sesuatu yang berubah kecuali sesuatu itu sendiri”. Kadang-kadang orang terjebak dalam ruang dan waktu yang gelap termakan oleh mitosnya sendiri. Kita sebagai mahasiswa adalah daksa dan dosen itulah adalah dewanya. Maka dalam menembus ruang dan waktu, para dewa harus bisa menembus ruang dan waktu sesuai dengan komunitasnya. Dalam artian, jika kita mau menembus ruang dan waktu kita harus melepas baju kedewaaanya agar tidak menakut-nakuti. Demikian pula ketika akan bertemu para dewa maka kita memperiapkan alat yang khusus, seperti Pak Jokowi ketika akan bertemu dengan Obama sebagai dewa maka harus memakai jas dan dasi jika hanya menggunakan batik maka Pak Jokowi akan dianggap sebagai kaum tribal. Disebabkan realitanya batik belum bisa menjadi universal value yang masih di bawah kekuasaan PowerNow. Batik masih bersifat lokal belum bersifat internasional menembus kekuasaan PowerNow. Karena untuk menjadikan Batik jadi icon universal value diperlukan proses yang panjang dan lama dengan cara mengubah paradigma, dunia, ideologi, pilitik dan sebagainya. Seperti kejadian pemboman di Paris, Obama berkata “ini menyerang Universal Value” dan universal value sekarang dipegang oleh PowerNow. Tidak mudah untuk menjadi universal value, memerlukan perubahan dari generasi ke generasi 10 atau 20 generasi belum tentu mampu merubah universal value. Malahan yang terjadi realitasnya kita akan kehilangan lokal yang akan tersedot dalam aliran PowerNow yang telah direduksi. Reduksi itu ibarat pisau yang berbahaya yang dapat membunuh. Namun disisi lain berguna dan sangat dibutuhkan untuk mengupas bawang. Inilah salah satu fenomena Comte. Fenomena Comte yang lain adalah menghilangkan rokok di dunia ini banyaknya kerugian dari rokok tersebut namun di sisi yang lain menggantungkan hidup para petani tembakau jadi rokok masih dijual bebas ke sana kemari. Kembali pada soal-soal filsafat dimana pada dasarnya soal-soal filsafat itu berstruktur. Serta memiliki 1001 jawaban yang harus dipilih sesuai dengan ruang dan waktu yang.

Pertanyaan 2
Atik Lutfi U.N
Apakah batasan seseorang dapat dikatakan sebagai sufi?
Jawaban dari Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Mengenai sufi berati tentang tingkatan spiritual. Seorang sufi sebenarnya mencoba mencari metode berdoa yang disesuaikan dan dikembalikan secara otentik berdasarkan aslinya. Contohnya menyakini Nabi-nabi sesuai dengan keyakinan masing-masing walaupun telah meninggal dunia tetaplah diyakini dan dihormati. Pada kisah zaman dahulu ketika para sahabat sedang berkumpul dengan para Nabi, salah satu sahabat berkata kepada Nabi, “Saya ingin mengetahui sebenar-benar dirimu, saya ingin mengetahui sebenar-benar wajahmu, wahai Rosul”. Rasulullah SAW menjawab, “Tengoklah pada telinga putriku”. Semua satu persatu sahabat pun menengok dan melihat telinga Fatimah namun hanya menemukan gelap. Hanya satu sahabat Rasulullah SAW yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq yang tidak ikut menengok telinga Fatimah. Rasululloh pun bertanya kepada Abu Bakar “Kenapa Engkau tidak melihat telingan putriku ?”. Abu Bakar menjawab “tidak perlu ya Rasulullah, setiap hari aku sudah melihat dirimu ketika aku makan, mandi, tidur, dll”. Rasulullah SAW pun menjawab “Engkaulah salah satu muridku yang paling cerdas”. Rosul merupakan murid Malaikat Jibril, Malaikat Jibril adalah utusan Allah. Sehingga dari Tuhan mengalirlah sinar-sinar yang diyakini oleh para ulama yang kemudian lahirlah Ahlu Sunnah Waljama’ah. Dari para sahabat selanjutnya kepada penerus-penerus sehingga sampailah pada para sufi (ulama pembawa wasilah). Wasilah inilah yang kemudian menjadi guru-guru spiritual dimana Dunia dan akhirat memiliki gurunya masing-masing untuk menertibkan dan membetulkan para manusia. Maka janganlah berlaku sombong akan ilmu yang dimiliki sehingga merasa tidak perlu belajar kepada para sufi, ulama dan sebagainya untuk sampai kepada Tuhan kerana merasa yakin doanya akan sampai kepada Tuhan. Kita tidak akan pernah tahu apakah doa kita diterima atau tidak karena doa pun memiliki medannya tersendiri, tapi dengan mengintrospeksi diri, berusaha dekat dengan sufi. Dalam keadaan apapun berusahalah untuk memohon ampun dan menyebut nama Tuhan karena itulah setinggi-tinggi spiritual.


Pertanyaan 3
Tri Rahmah S
Bagaimanakah tanggapan filsafat mengenai khayalan manusia agar tidak melampau batas kuasa Tuhan?
Jawaban dari Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Khayalan agar tidak melampaui batas maka kendalikan dengan iman dan taqwa dalam dimensi spiritual. Jika kita melihat,


Jika x anggota A, maka x ≠ x, karena x ≠ x maka kesimpulannya x bukan anggota himpunan A. Apapun akan melahirkan kontradiksi, setiap langkah di dunia ini pastinya akan bertemu dengan kontradiksi sebagaimana pada Fenomena Comte. Akibat dari Fenomena Comte kita dibuat ribet, kita lupa akan sholat, lupa akan kewajiban. Sehingga jika dikembangkan secara intensif dan ekstrensif dari fenomena Comte tersebut inilah mencampuradukkan antara postif dan negatif menjadi satu. Sehingga dalam dimensi tertinggi spiritual, orang tersebut tidak akan masuk surga karena masih adanya unsur neraka dalam dirinya. Inilah hidup, mau pulih yang mana neraka atau surga tergantung pada bagaimana diri kita menjalani hidup. Maka dalam filsafat ketika berdiskusi berkaitan dengan ketuhanan jangalah melampaui batas karena sebenar-benar pikiran kita tidak akan mungkin mampu menggapai memikirkan Tuhan. Maka jika telah masuk dalam diskusi yang mulai mengarah pada keraguan terhadap Tuhan, lebih baik hentikanlah dan istiqfarlah. Ketahuilah Tuhan mengetahui segalanya apa yang tidak kita ketahui, pikiran kita terbatas memikirkanNya inilah bukti ketidaksempurnaan manusia. Sehingga Imanuel Khan menyebutkan “Dunia ini ada awal dan tidak ada awal “Jika dilihat secara sistematik maka dunia itu ada awal, secara  Filsafat menganggap dunia tidak ada awalan secara keyakinan, dunia itu berawalan dan berakhiran namun hanya Tuhan yang mampu mengawali dan mengakhiri. Sedangkan jika dilihat dari fikiran manusia dunia tidak berakhir namun ada akhir. Yang terpenting adalah adanya keimanan pada diri manusia bahwa awal dan akhir itu hanya Tuhan yang tahu.

Demikianlah sesi kedua perkuliahan yang diisi dengan tanya jawab. Semoga dapat menjadikan kita lebih bijak lagi terhadap ruang dan waktu.

Wassalamualaikum wr.wb



Filsafat Ilmu: REFLEKSI 12 Tes Jawab Singkat Menembus Ruang dan Waktu

"Ujian" Menembus Ruang dan Waktu
Venti Indiani | 15709251057

Assalamualaikum wr.wb

Berikut merupakan refleksi tes jawab singkat dengan tema “Menembus Ruang dan Waktu” dari pertemuan ke sembilan perkuliahan Filsafat Ilmu oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A. hari Selasa, 17 November 2015 pukul 11.10 - 12.50 WIB di R. 305B Gedung Lama Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta. Berikut ringkasan dari pertanyaan dan jawaban dari tes jawab singkatnya.

Spiritualnya ujian : ujian iman dan taqwa
Otologinya ujian : ujian wadah dan isi
Epistimologinya ujian : isi menemukan wadah
Aksiologinya ujian ujian dalam ruang dan waktu
Ketetapan ujian : wadah ujian
Ketidaktepatan ujian : isi ujian
Idealnya ujian : ujian para dewa
Realismenya ujian : ujian dari luar
Analitiknya ujian : konsistensi ujian
A Priorinya ujian : menyiapkan ujian
Koherennya ujian : konsistensi ujian
Transendennya ujian : ujian para dewa
Skeptismenya ujian : rasional ujian
Pondasinya ujian : kesepakan ujian
Awalnya ujian : kesepakan ujian
Sebabnya ujian : fakta ujian
Identitasnya ujian : ujian = ujian
Kontradiksinya ujian : ujian ≠ ujian
Formalnya ujian : wadah ujian
Substansinya ujian : isi ujian
Reduksinya ujian : sifat ujian
Sintetiknya ujian : ujian baru
A posteriorinya ujian : telah ujian
Persepsinya ujian : melihat ujian
Imajinasinya ujian : membayangkan ujian
Kuasanya ujian subjek ujian
Sifatnya ujian : predikat ujian
Intuisinya ujian : pengalaman ujian
Mimpinya ujian : tidak logis dan tidak nyata
Formalnya ujian : ujian resmi
Isinya ujian : material ujian
Nihilismenya ujian : tidak ada ujian
Fallibismenya ujian : ujian yang tidak berupa ujian
Faktanya ujian : konteks ujian
Relatifnya ujian : isi ujian
Subjek ujian : penguji
Objeknya ujian : yang diuji
Saintifiknya ujian : mencoba ujian
Eksistensinya ujian : ada ujian
Mengadanya ujian : hasil ujian
Pengadanya ujian : hasil ujian
Apodiktinya ujian : ujian rigor
Epochenya ujian : ujian tak perlu
Harmoninya ujian : ujian seimbang
Regulernya ujian : ujian teratur
Intensifnya ujian : ujian radik
Ekstensifnya ujian : ujian komprehensif
Teleologinya ujian : ujian yang akan datang
Architekturnya ujian : konstruksi ujian
Hermeunetikanya ujian : interaksi penguji dan yang di uji.

Setelah menginstropeksi diri aku sadar bahwa apa yang tertulis di atas terlintas dalam pikiranku saja belum pernah. Hal tersebut menunjukkan sempitnya kosa kataku, tidak luasnya pemikiranku, dan kurangnya wawasanku. Maka membaca sejatinya adalah kunci bagiku untuk meningkatkan dimensi filsafatku.


Wassalamualaikum wr.wb

Metodologi Penelitian Pendidikan: MEMBUKTIKAN VALIDITAS DAN MENGESTIMASI RELIABILITAS INSTRUMEN PENELITIAN

MEMBUKTIKAN VALIDITAS DAN MENGESTIMASI RELIABILITAS
INSTRUMEN PENELITIAN

Validitas
Validitas berhubungan dengan sejauh mana suatu alat ukur mampu mengukur secara tepat apa yang seharusnya diukur (Tuckman, 1972:140; 1981:110). Tujuan validasi instrumen adalah untuk memastikan bahwa instrumen yang telah kita buat layak digunakan dan dapatmengukur apa yang hendak diukur.

Macam-macam Validitas
Validitas isi : Validasi isi dapat dilakukan dengan expert judgment untuk menilai isi dari instrumen. Validitas isi dapat diklasifikasikan menjadi validitas tampang dan validitas logis. Validitas tampang diperoleh melalui pemeriksaan terhadap butir-butir instrumen/tes untuk membuat kesimpulan bahwa instrumen/tes mengukur aspek yang relevan. Validitas logis, dapat dilihat sejauh mana butir soal merepresentasikan instrumen, jadi semua butir soal haruslah mewakili setiap instrumen.
Validitas Kontruks : Validitas kontruks dilakukan setelah validitas isi. Setelah menurut para ahli suatu instrumen dikatakan valid maka selanjutnya dilakukan validitas konstruk dengan menggunakan analisis faktor. Analisis faktor dapat juga dimaknai sebagai metode statistik yang menyelidiki antar hubungan seperangkat skor tes/alat ukur serta menetapkan jumlah faktor atau konstruk yang diperlukan untuk menerangkan antara hubungan itu (Ary, Jacobs & Razavieh, 1982-291). Contohnya: akan membuktikan apakah kompetensi bahasa, benar-benar terdiri dari listening, reading, writing dan speaking. Apakah instrument kita memuat keempat aspek itu atau tidak itulah yang disebut validitas konstruk.
Cara mengukur validitas konstruct ada dua macam yaitu EFA  (Factor analisis) dan CFA (Confirmatory Factor Analisis)
Validitas kriteria : Validitas kriteria harus ada dua tes, tes yang akan divalidasi dan kriterianya. Validitas waktu berjauhan disebut validitas prediktif sedangkan waktunya berdekatan disebut koheren

Reliabilitas
Reliabel mempunyai arti ajeg atau keajegan. Reliabilitas merujuk kepada sejauh mana suatu alat ukur secara konsisten mengukur apa yang seharusnya diukur (Tuckman, 1972: 136 ; Gay 1981: 116)
Semakin tinggi reabilitas soal, maka soal yang dibuat bagus.

Tambahan
Selama ini berkembang di masyarakat umum mengenai validitas butir. Sebenarnya validitas butir ini tidak ada (salah konsep). Korelasi butir dan korelasi total merupakan ekstensi reliabilitas.

Referensi
Diskusi dalam Perkuliahan Metodologi Penelitian Pendidikan oleh Dr. Heri Retnawati
Wagiran. 2013. Metodologi Penelitian Pendidikan: Teori dan Implementasi. Yogyakarta: Deepublish.

Metodologi Penelitian Pendidikan: Instrumen Penelitian

INSTRUMEN PENELITIAN
Venti Indiani | 15709251057



Instrumen merupakan perangkat penting yang digunakan dalam penelitian. Secara garis besar instrumen dibedakan menjadi dua, yaitu instrumen tes dan non tes. Berikut merupakan bagan mengenai bentuk instrumen tes dan non-tes.


Instrumen Penelitian berupa tes antara lain:
Pilihan ganda
Tes ini mempunyai beberapa kemungkinan jawaban yang harus dipilih oleh peserta tes. Melalui tes pilihan ganda mampu memberikan nilai berupa angka tanpa dipengaruhi oleh subjektifitas penilai.
Contoh:
Logika berpikir yang digunakan dalam penelitian kuantitatif adalah:
A deduktif
B induktif
C deduktif-induktif
D deduktif-prediktif

Menjodohkan
Tes menjodohkan merupakan salah satu tes yang terdiri dari sejumlah item yang masing-masing item tersebut dibagi dalam dua lajur, yaitu lajur pertanyaan/pernyataan dan lajur jawaban. Tugas peserta tes adalah menjodohkan jawaban sehingga cocok dengan pertanyaan/pernyataan.
Contoh:
Pernyataan/pertanyaan
Jawaban
Pilihan Jawaba
Ibukota provinsi Jawa Tengah

Denpasar
Ibukota provinsi Jawa Barat

Surabaya
Ibukota provinsi Bali

Semarang
Ibukota provinsi Jawa Timur

Bandung

Isian singkat
Dalam tes isian singkat peserta tes mempunyai kebebasan untuk mengisi jawaban. Observer menyiapkan benerapa pertanyaan dan peserta tes diminta untuk mengisikan jawaban secara singkat.

Benar atau salah
Tes benar atau salah sering disebut juga true-false test. Tes ini terdiri dari pernyataan yang disertai dengan alternatif jawaban yaitu benar atau salah. Peserta tes diminta untuk memilih benar atau salah atas pernyataan yang diberikan.
Contoh:
Pernyataan
B
S
Operasi perkalian bersifat komutatif
v


Uraian/essay
Tes ini disebut juga tes subjektif (subjective test), pada umumnya terdiri dari sejumlah pertanyaan dalam bentuk uraian yang harus dijawab dalam bentuk uraian tertulis atau berupa kalimat bebas yang disusun sendiri oleh peserta tes. Secara umum tes uraian dikategorikan menjadi dua, yaitu tes uraian bebas (extended response test) dan tes uraian terbatas (restricted response test).
Contoh:
Jelaskan apa yang dimaksud dengan pendekatan problem solving. à (extended response test)
Sebutkan empat langkah pemecahan masalah menurut Polya. à (restricted response test)

Sementara itu Instrumen Penelitian berupa Non Tes yaitu:
Lembar Obsevasi
Lembar observasi ini berisi catatan penting yang terjadi selama penelitian berlangsung.

Pedoman wawancara
Pedoman wawancara berisi daftar pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan oleh observer kepada yang akan dimintai informasi.

Angket
Angket merupakan pernyataan atau pertanyaan yang disertai dengan alternatif-alternatif jawaban sehingga dalam memberikan jawaban responden cukup memilih salah satu dari jawaban yang telah disediakan. Angket dibedakan menjadi dua, yaitu angket dengan pertanyaan terbuka dan angket dengan pertanyaan tertutup.

(i) Angket Pertanyaan Terbuka
Angket ini memiliki alternatif jawaban berbentuk pilihan ganda, namun peneliti berasumsi jawaban yang disediakan mungkin tidak sesuai dengan responden sehingga perlu diberikan kesempatan untuk memberikan jawaban lain.
Contoh:
Menurut Saudara, mata pelajaran apa yang sesuai untuk diintegrasikan dalam pembelajaran sadar bencana berbasis kearifan lokal?
a
Semua mata pelajaran
b
IPA
c
IPS
d
Agama
e
Lainnya, .......

(ii) Angket Pertanyaan Tertutup
Angket ini berisi pertanyaan atau pernyataan disertai dengan jawaban yang harus dipilih oleh responden tanpa memberikan kemungkinan jawaban lain. Dengan demikian responden harus memilih diantara beberapa alternatif jawaban yang menurutnya tepat atau paling sesuai. Tidak ada kesempatan bagi responden untuk mengemukakan pendapatnya.
Contoh:
Pernyataan
SL
SR
KK
JR
TP
Saya giat mengerjakan tugas matematika yang diberikan guru





Saya mudah menyerah apabila menemui masalah matematika yang sulit





Saya bertanya pada guru matematika apabila menemui permasalahan matematika yang sulit dipahami





Saya mencari berbagai sumber belajar untuk menambah pengetahuan saya mengenai matematika





                                               
Daftar cek
Dalam menyusun daftar cek, setiap variabel dijabarkan secara rinci menjadi unsur-unsur yang disusun secara teratur berupa suatu daftar urutan kualifikasi data yang akan diamati kemunculannya. Tugas observer dalam menggunakan daftar cek yaitu dengan memberikan tanda cek berupa tanda silang, tanda centang (v), dilingkari, dan lain sebagainya.
Contoh daftar cek:
Dilakukan penelitian untuk mengetahui tindak belajar siswa dalam penerapan sutau metode pembelajaran kooperatif. Untuk itu dibuat unsur atau gejala yang akan diamati sebagai berikut.
No
Komponen
Aspek yang diamati
Ya
Tidak
1
Motivasi
Sebagian besar siswa terlihat antusias dalam belajar
v

Siswa membuat target dalam menyelesaikan tugas
v

2
Keaktifan
Sebagian besar siswa aktif bertanya
v



Sebagian besar siswa aktif mengemukakan ide
v









Referensi:
Diskusi dalam Perkuliahan Metodologi Penelitian Pendidikan oleh Dr. Heri Retnawati

Wagiran. 2015. Metodologi Penelitian Pendidikan: Teori dan Implementasi. Yogyakarta: Deepublish.



Metodologi Penelitian Pendidikan : HIPOTESIS PENELITIAN

HIPOTESIS
Venti Indiani | 15709251057

Pengertian Hipotesis:
Hipotesis merupakan suatu pernyataan yang masih lemah kebenarannya dan perlu dibuktikan. Hipotesis juga dapat dikatakan sebagai suatu dugaan yang sifatnya masih sementara sehingga perlu diuji untuk kemudian diterima atau ditolak.

Prosedur Pengujian Hipotesis:
Menentukan formulasi hipotesis
Menentukan taraf nyata (significant level)
Menentukan kriteria pengujian
Menentukan nilai uji statistik
Membuat kesimpulan

Menentukan formulasi Hipotesis:
Hipotesis nol : suatu pernyataan yang akan diuji, hipotesis tersebut tidak memiliki perbedaan/ perbedaannya nol dengan hipotesis sebenarnya.
Hipotesis alternatif : segala hipotesis yg berbeda dengan hipotesis nol. Pemilihan hipotesis ini tergantung dari sifat masalah yang dihadapi

Hipotesis dapat ditentukan dengan mempertimbangkan beberapa hal, antara lain:
Melihat kajian pustaka
Melihat riset terdahulu yang relevan
Peraturan kebijakan

Ciri Hipotesis yang Baik:
Rumusannya mudah dipahami
Memuat nilai prediktif (mengandung dugaan yang sesuai dengan kajian literatur)
Bersifat konsisten (tidak bertentangan dengan teori pada penelitian sebelumnya)
Dapat diuji    

Perumusan Hipotesis yang Benar:
Hipotesis dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan deklaratif, bukan pertanyaan.
Hipotesis berisi pertanyaan mengenai hubungan antar paling sedikit dua variabel
Hipotesis dapat diuji (testable)

Contoh Hipotesis:
Berdasarkan informasi yang dikemukakan pada sebuah media massa, bahwa harga beras jenis “A” di suatu wilayah adalah Rp. 3.200,-  (Pengujian Dua Pihak)
   Ho :  µ = Rp. 3.200,-
   Ha :  µ ≠ Rp. 3.200,-
Berdasarkan informasi bahwa harga beras jenis “A” di suatu wilayah tidak kurang dari Rp. 3.200,- (Pengujian Satu Pihak – Kiri)
   Ho :  µ ≥ Rp. 3.200,-
   Ha :  µ < Rp. 3.200,-
Berdasarkan informasi bahwa harga beras jenis “A” di suatu wilayah tidak lebih dari Rp. 3.200,- (Pengujian Satu Pihak – Kanan)
    Ho :  µ ≤ Rp. 3.200,-
    Ha :  µ > Rp. 3.200,-

Referensi:
Diskusi dalam Perkuliahan Metodologi Penelitian Pendidikan oleh Dr. Heri Retnawati
Wagiran. 2013. Metodologi Penelitian Pendidikan: Teori dan Implementasi. Yogyakarta: Deepublish.
fanny.staff.uns.ac.id/.../PENGUJIAN-HIPOTESIS.ppt